Karya Tulis Fiksi Guru

Kumpulan Tulisan & Literasi Guru

Karya Tulis Fiksi

Karya Fiksi Guru di Sewon itu Banyak

Penulis: Nuray Anggraini Nurchayat

 

 

 

Mengapa Guru Menulis?

Menulis adalah aktifitas yang dilakukan dengan mengolah senap panca indra. Tidak hanya sekedar peristiwa yang disusun atau informasi yang disajikan. Menulis adalah hasil dari olah pikir dan olah rasa. Buya Hamka mengungkapkan bahwa, "Tulislah apa yang engkau lihat, apa yang engkau alami, dan apa yang engkau rasa."  Bagi Buya Hamka, menulis adalah seni memasukkan penderitaan dan gejolak jiwa ke dalam teks agar pembaca bisa ikut merasakan kedalamannya. 

 

Masa kini, ada banyak keluh kesah yang tidak bisa disuarakan dengan suara jelas dan lugas. Ada pikiran dan pertimbangan bijak yang harus dikelola, agar figure yang dibangun sebagai tauladan tidak menjadi bias oleh perasaan dan urusan pribadi. Pada akhirnya guru adalah manusia. Manusia yang harus terbiasa memilah dan memilih dengan lebih bijak.

 

Mengungkapkan suatu fenomena dapat dilakukan dalam tulisan-tulisan fiksi. Terkesan fiktif tapi tetap mendalam. Seolah-olah berada jauh entah di mana dunia imajinasi itu dibangun, tapi rasa yang disampaikan jelas dekat. Kata-kata yang dirangkai dengan manis dan indah, tidak hanya sebagai penghias, tapi tetap memberikan petuah dan nasihat yang bermakna. Guru perlu menulis, tidak hanya berkreatif, tapi juga meluahkan ide serta kegundahan dalam karya yang mampu dinimkati banyak orang.

 

 

Temanmu Menunjukkan Kualitasmu

"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi.

 

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau kamu bisa membeli darinya, atau kalaupun tidak, kamu tetap mendapatkan bau harum darinya.

 

Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai dan membakar pakaianmu, atau kalaupun tidak, kamu tetap mendapatkan bau asapnya yang busuk."

(Hadis Riwayat Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628)

 

Kita sama tahu, bahwa kutipan tersebut tidak sedang membahas tentang jenis pekerjaan. Kita paham betul bahwa lingkungan memberikan pengaruh pada perkembangan diri. 

 

Lingkaran pertemanan yang positif akan membuat kita bertumbuh menjadi pribadi yang positif. Lingkungan pertemanan yang cenderung negative, akan membuat kita jalan ditempat atau hidup tanpa rasa syukur.  

 

Teknologi semakin maju, perubahan sering lebih cepat dibandingkan matahari yang berputar dari timur ke barat. Tuntutan administrasi kini lebih mengarah pada proses digitalisasi yang membuat guru harus terbiasa terhubung secara daring.

 

Terkesan sebagai hambatan memang, tapi jika dilihat dari paradigma yang positif, tentunya perkembangan itu membuat guru dapat terhubung dengan berbagai komunitas positif. Tidak harus selalu duduk semeja, bisa saja jarak itu ribuan kilometer, tapi dekat dalam detik. Komunikasi melalui jaringan.

 

Terbukti komunitas-komunitas positif itu telah menelurkan berbagai karya. Karya tersebut terus bertumbuh dan tetap ada hingga kini. Di antara karya tersebut yaitu,

1. Kecewa Harap yang Membawa Luka (2019)

2. Potret (2019)

3. Cinta Dari Selatan Yogyakarta (2019)

4. Epilog dalam 200 Kata (2020)

5. Kita adalah Cerita (2020)

6. Prosais Pohon Harapan (2020)

7. 500 Buku Keempat (2020)

8. Doa Sang Pengabdi (2020)

9. Asam Manis Menjadi Orang Tua (2020)

10. Jauh Di Atas Normal (2020)

11. Melukis Hujan dalam Jejak Kenangan (2020)

12. Hulu (2020)

13. Aliran Rasa dalam Kasara untuk Shaqilla (2020)

14. Tanpamu Apalah Daku (2020)

15. Perahu Ceita (2021)

16. Sang Pejuang Pendidikan (2023)

17. Melangkah Menyongsong Senja (2024)

18. Dia Yang Namanya Tak Pernah  Disebut (2025)

19. Swara  Dharma Bhumi  Satria (2025)

21. Secercah Harapan di Ujung Senja (2025)

22. Nyanggit: Kumpulan Geguritan (2026)

 

Tentunya karya-karya buku fiksi ini belum merangkum seluruh karya guru se-Kapanewon Sewon. Namun angka tersebut telah menunjukkan betapa proses itu hanya. Mampu melahirkan hasil positif dan dmapak positif bagi guru.

 

 

Ajak Anak-anak Masuk Dunia Fantasi

Kita sadari, semakin hari kita membaca berita di social media, ad abegitu banyak kasus yang menyeret anak-anak hingga remaja, peserta didik kita. Tidak dipungkiri bahwa kemudahan dalam mengakses informasi di belahan dunia, tidak hanya mampu membuka mata lebih luas terhadap dunia. Namun juga memberi dampak buruk, jika apa yang dilihat tidak disaring terlebih dahulu.

 

Alih-alih membatasi ruang gerak anak-anak. Beberapa guru memilih mengajak peserta didik untuk menuangkan imajinasi mereka ke dalam buku. Dalam satu buku yang ditulis, telah mampu menjadi magnet berkekuatan besar untuk mereka tidak malu-malu lagi menunjukkan tulisan. Karya terbaik mereka.

 

1. Badak Sumbu dan 77 Ceita Lainnya (2023, melibatkan 54 penulis cilik)

2. Seuntai Doa Dari Kami (2023)

3. Menembus Batas Jauh di Atas Sana (2024, melibatkan 34 penulis cilik)

4. Cerita Kak Nana (2024, Cerita Bergambar Adrena Dayana Batrisya)

5. Berhimpun: Kumpulan Pantun Bersahut (2025, melibatkan 68 penulis cilik)

6. Kebakaran di Mioza (2025, 4 penulis cilik berbakat SDN Jarakan)

7. Langkah Awal Menuju Impian (2025, melibatkan 29 penulis cilik)

8. Guruku Pelita Dalam Gelap (2026)

 

Guru mengajak anak-anak tidak hanya belajar, tidak hanya membuat mereka paham dan terampil menulis. Tapi memberikan ruang apresiasi atas apa yang mereka hasilkan. Mengajak anak-anak untuk menjelajahi dunia fantasi yang seru dan tetap positif tentunya.

 

 

Guru, Mari Terus Bertumbuh,  Lagi, Lagi, dan Lagi

Tidak hanya dalam komunitas, tapi juga dalam diri mereka, guru positif akan selalu berusaha terus bertumbuh. Seperti bunga yang ditempatkan pada lingkungan yang tetap, dirawat dengan telaten, tentunya akan menghasilkan bunga-bunga nan indah. 

 

Ada banyak buku yang ditulis secara solo oleh guru, diantaranya yaitu:
1. Goresan Penaku (2019)

2. Sebelas Cerita (2020)

3. Road Map (2020)

4. Sang Nyonya (2025)

 

Sekali lagi, sedikit dari contoh buku ini belum mewakili guru penulis. Masih ada penulis buku solo yang masih aktif berkarya, bahkan hingga kini terus berproses. 

 

Seperti mata pisau, semakin diasah akan semakin tajam. Demikian halnya keterampilan yang semakin di asah akan semakin terampil. Karya-karya baru, guru tetap akan selalu dinanti untuk menjadi inspirasi bagi rekan sejawat.

 

 

Buku Jendela Dunia, Imajinasi adalah Kunci Dunia Fantasi

Dunia bergerak semakin cepat. Perputaran perubahan bergerak tanpa menunggu, apakah kita siap atau tidak. Tantangan demi tantangan datang, bukan lagi silih berganti. Mereka seolah berebut ingin ditakluk.

 

Guru tidak boleh gagap. Tidak. Bahkan jangan. Melalui komunitas terbesar, Organisasi PGRI maupun komunitas positif lain, guru harus mampu saling belajar, berproses, dan berkarya. 

 

Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga bersama anak-anak, anak didik kita. Bahkan mengajak mereka mengarungi lautan-lautan imajinasi. Mengajak berproses kreatif. Lebih dari sekedar membuat mereka pintar dan terampil. Namun proses kreatif dan berkarya, harapannya mampu mengasah karakter anak-anak menjadi sosok-sosok unggul berkarakter. 

 

Melalui literasi, guru tidak hanya mengajak anak belajar. Melalui literasi, kita bangun generasi unggul yang siap menjawab setiap tantangan perubahan zaman.